Kolam Ikan

kolam ikan

Legenda Ikan Sakti Sungai Janiah


Legenda tentang Ikan Sakti Sungai Janiah, dimulai semenjak manusia menempati daerah ini, yaitu ketika orang-orang turun dari Gunung Merapi beberapa abad yang silam.


Dahulunya ketika Gunung Merapi mulai dipenuhi oleh manusia dan kehidupan semakin sulit, maka sumber kehidupanpun terasa semakin sulit. Untuk itu, muncullah pemikiran mencari daerah baru yang dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Oleh karena itu, setelah susutnya air yang menggenangi daerah-daerah kaki Gunung merapi maka Datuak Rajo Nando memerintahkan keponakannya yang bernama Sutan Basa untuk pergi turun gunung mencari daerah baru.
Ketika turun gunung, sampailah Sutan Basa pada sebuah daratan. Di daratan tersebut, ia menemukan kolam kecil dengan pincuran tempat mandi. Pada saat itu, tampaklah olehnya seorang gadis yang sedang asyik mandi sambil menikmati sejuknya air. Melihat kehadiran Sutan Basa, gadis tersebut terkejut dan menjerit ketakutan sambil berteriak minta tolong. Teriakan gadis tersebut, terdengar oleh seseorang yang bernama Katik Nan Senteang yang kebetulan dekat dengan tempat tinggalnya. Oleh karena itu, ia segera berlari menelusuri semak belukar mencari sumber suara yang minta tolong itu. Tak lama kemudian, Katik Nan Senteang menerkam Sutan Basa dari arah belakang. Akhirnya, perkelahian yang cukup sengit antara Sutan Basa dengan Katik Nan Senteang tak dapat dihindari.


Setelah beberapa saat mereka bertarung, muncullah Haji Janggut Saroban bapak dari Katik Nan Senteang bersama gadis tadi, Haji Janggut Saroban segera menghentikan perkelahian menanyakan asal-usul dan maksud kedatangan dari Sutan Basa tersebut. Kemudian, Sutan Basa segera menjelaskan asal-usul serta maksud kedatangannya yaitu dari Gunung Merapi dan bermaksud mencari tempat tinggal baru. Mendengar penuturan Sutan Basa tersebut, Haji Janggut Saroban tidak keberatan menerima asalkan Sutan Basa membawa mamaknya.
Setelah itu, Sutan Basa kembali ke Gunung Merapi untuk melaporkan hasil turun gunung pada Datuak Rajo Nando. Sehari kemudian, Datuak Rajo Nando dan Sutan Basa pergi menemui Haji Janggut Saroban. Sesampai disana, Datuak Rajo Nando mencerikatan maksud kedatangannya yaitu ingin tinggal dan menetap di daerah itu. Mendengar permohonan Datuak Rajo Nando, Haji Janggut Saroban memakluminya dan menerima mereka dengan satu syarat yaitu harus berjanji dan bersumpah. Adapun janji dan sumpah tersebut adalah “Pertama, jika menebang kayu, harus membuang bahan kemana kayu tersebut diarahkan menebangnya (membuang bahan yaitu lempengan-lempengan kayu yang ditebang kearah kayu itu dijatuhkan). Kedua, jika ingin menggulingkan batu, harus terlebih dahulu melemparkan batu kecil kearah mana batu itu digulingkan.” Siapapun yang melanggar janji dan sumpah tersebut, maka “Kateh indak sampai ka udaro, ka bawah indak sampai ka bumi, hiduik mamakan karak-karak lumuik.” Setelah mengucapkan janji dan sumpah itu, mulailah Datuak Rajo Nando sekeluarga dan pengikutnya tinggal di daerah tersebut.
Setelah cukup lama tinggal di sana, Datuak Rajo Nando bersama pengikutnya bermaksud mendirikan tempat pertemuan yang disebut dengan Balairung. Kemudian bersama-sama mereka mencari kayu ke hutan untuk bahan membuat Balairung tersebut. Walaupun sudah dikerahkan semua masyarakat, namun masih ada satu kayu lagi yang belum didapatkan yaitu tiang dan tonggak tua. Untuk itu, Datuak Rajo Nando memerintahkan keponakannya Sutan Basa mencari kayu tersebut.


Akhirnya, berangkatlah Sutan Basa menuruni sebuah lembah yang disebut dengan Lakuak Rangeh dekat nagari yang bernama Luak Taeh. Disana, ia melihat sebatang kayu yang bernama Kayu Kasiah Baranak. Kayu tersebut, memenuhi syarat sebagaimana yang diperintahkan oleh mamaknya Datuak Rajo Nando yaitu besar, lurus, dan kuat. Karena merasa gembira akan dapat menyelesaikan tugas yang diberikan oleh mamaknya, ketika menebang kayu tersebut ia lupa dengan janji dan sumpah kala hendak menempati daerah tersebut yaitu “jika menebang kayu, harus membuang bahan kemana kayu tersebut diarahkan menebangnya.” Akibatnya, ketika kayu tersebut roboh, menimpa seorang gadis yang kebetulan berada di sana yang bernama Siti Baralun. Sambil menjerit kesakitan, Siti Baralun berteriak minta tolong. Tak lama kemudian, muncullah Katik Nan Senteang di sana. Dan ternyata, Siti Baralun merupakan adik Katik Nan Senteang. Dengan sangat marah, ia menghardik karena sutan Basa telah melanggar sumpah dan janji sehingga mencelakakan adiknya. Untuk itu, ia bersumpah akan membalas dendam pada anak cucu Sutan Basa sambil membawa adiknya Siti Baralun pulang ke Batu Baraguang di Puncak Bukit Batanjua. Demikian pula halnya dengan Sutan Basa, diapun pulang sambil membawa kayu tersebut dengan perasaan menyesal. Namun apa hendak dikata, nasi telah jadi bubur.
Sesampai di tempatnya, Sutan Basa menceritakan kejadian di Lakuak Rangeh tersebut kepada Datuak Rajo Nando. Mendengar hal itu, Datuak Rajo Nando segera menemui Haji Jangguik Saroban di Bukit Baraguang sambil menegok keadaan Siti Baralun. Namun sampainya di sana, ternyata Haji Jangguik Saroban tidak dirumah sehingga tidak dapat menemuinya.
Setelah peristiwa tersebut berlalu beberapa hari,kemarahan Katik Nan Senteang tidak dapat pendamnya lagi. Dengan mengerahkan segenap ilmu batin nya, ia menjatuhkan batu-batu yang ada di Bukit Baraguang sehingga menimbulkan gempa yang sangat dahsyat. Batu-batu terebut, jatuh dengan menggila dan berguling-guling bagaikan singa memburu mangsa. Hingga sampai sekarang, tempat tersebut dinamakan dengan Puncak Anggili yang artinya puncak yang gila.
Melihat kelakuan Katik Nan Senteang yang sangat keterlaluan itu, Datuak Rajo Nando tak tinggal diam, iapun segera membalasnya dan menghancurkan puncak anggili tersebutdengan menggunakan senjata yang disebut Badia Satingga. Senjata tersebut, terbuat dari rotan mancik (tikus) yang mensiunnya dari air tebu. pada tembakkan pertama dari arah depan, belum mampu menghancurkan Puncak Anggili. Namun dari tembakkan kedua dari arah belakang, maka hancur-leburlah Puncak Anggili.
Rupanya Katik Nan Senteang, tetap belum puas dengan balas dendamnya. Lalu dengan menggunakan ilmunya, mendatangi setiap tempat pesta yang diadakan penduduk sambil menyebarkan penyakit perutgalang-galang, dan sijundai.


Hal tersebut disadari oleh Datuak Rajo Nando, dan menganggap perbuatan Katik Nan Senteang tersebut telah melanggar janji. Untuk itu, ia pergi menemui Haji Jangguik Saroban dan menjelaskan peristiwa tersebut. Kedatangannya itu, disambut oleh Haji Jangguik Saroban sambil berkata: “Memang keponakan kita telah sama-sama bersalahdan sama-sama melanggar sumpah. Untuk itu, marilah sama-sama kita lihat hasil sumpah yang sama-sama kita ucapkan dulu.”


Tak lama setelah peristiwa tersebut, istri Datuak Rajo Nando yang bernama Upiak Sari Banun melahirkan seorang anak perempuan. Ketika anaknya berumur kira-kira 8 tahun, setelah shalat ashar Datuak Rajo Nando dan istrinya pergi ke kebun tebu dekat rumahnya. Si anak, ditinggalkan di halaman rumah dalam sebuah kurungan yang terbuat dari kayu-kayu kecil. Setelah hamper malam, barulah pekerjaan mereka di ladang tebu selesai. Karena teringat dengan anak mereka dan haripun hampir malam, dengan bergegas mereka pulang ke rumah. Namun sesampai di rumah, ternyata anak mereka tidak ada lagi di dalam kurungan. Dengan sangat cemas, berteriak memanggil-manggil dan mencari anak mereka. Teriakan mereka itu, juga didengar oleh orang kampong yang serta merta membantu mencari anak Datuak Rajo Nando.
Namun apa hendak dikata, meskipun dalam malam yang semakin larut dan dibantu oleh orang kampong, sianak tak kunjung ditemukan. Akhirnya, orang-orang mulai menghentikan pencarian itu. Begitu juga dengan Datuak Rajo Nando dan istrinya.


Pada saat Upiak Sari Banun tertidur pulas, menjelang subuh dia bermimpi. Di dalam mimpinya, ia melihat anaknya berada di dalam kolam di depan rumah sambil berkata: “Pada pagi hari, ibu harus memanggilku seperti memanggil ayam dengan menebarkan padi atau nasi ke dalam kolam.” Pada saat itu, Upiak Sari Banun terbangun dari tidurnya dan terdengar azan pertanda masuknya waktu subuh.
Pagi harinya, Upiak Sari Banun pergi menuju kolam sambil membawa padi dan nasi. Sesampai di kolam dan setelah menebarkan padi serta nasi sambil memanggil nama anaknya, dengan penuh keheranan dia melihat dua ekor ikan tengah berenang dalam kolam tersebut. Yang seekor, tampak dengan jelas. Sedangkan seekor lagi, kelihatan samar-samar. Kemudian ia mendengar suara: “Yang tampak dengan jelas itu adalah anakmu. Sedangkan yang samar-samar adalah anak jin.” Mendengarnya, Upiak Sari Banun terpaku sambil berurai air mata.
Peristiwa ini, merupakan akibat melanggar sumpah dan janji sebagaimana yang mereka ucapkan dahulu yaitu: “Kateh indak sampai k udaro, ka bawah indak sampai ka bumi, hiduik mamakan karak-karak lumuik.”